TEMANGGUNG.RILISJATENG.COM – Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro (1825-1830) melawan Belanda merupakan salah satu perang terbesar sepanjang sejarah kolonial. Di pihak Diponegoro, sebanyak 200.000 orang tewas, dua juta lainnya harus menanggung dampak akibat perang, seperti rusaknya lahan pertanian hingga peternakan.
Pihak Belanda pun harus membayar mahal akibat perang ini, mereka kehilangan 8.000 tentara kulit putihnya dan 7.000 serdadu pribumi. Dampak lain adalah biaya perang yang mencapai 25 juta Gulden membuat mereka hampir bangkrut, sebab pendapatan Pemerintah Hindia Belanda kala itu setahun hanya 2 juta Gulden. Untuk mengisi kekosongan kas keuangan, akhirnya Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa atau “cultuur stelsel”.
Diponegoro, Pangeran Keraton Yogyakarta ini, mengobarkan perang sabil mulai 20 Juli 1825, lantaran penjajah telah mencabik-cabik harkat martabat pribumi, termasuk intervensi di dalam keraton. Selain itu, sebagai sebuah bentuk keberpihakan kepada “wong cilik” yang dirugikan dengan sistem ekonomi kolonial yang tidak adil.
Putra sulung Sultan Hamengkubuwono III dengan Raden Ayu Mangkorowati ini bangkit bersama rakyat, karena ketertindasan, tanah dirampas, pajak memberatkan petani, dan kebijakan hanya menguntungkan elite kekuasaan semata. Di sinilah Diponegoro kemudian memperjuangkan keadilan sosial, hak atas tanah, dan martabat manusia. Pertempuran pun terjadi di mana-mana termasuk di wilayah Kedu.
Pemerintah Hindia Belanda pun berkepentingan mengamankan wilayah, termasuk di Tanah Kedu, yang kemudian terjadi pertempuran di Menoreh yang dikenal dengan Perang Kedu Utara. Perang ini secara historis kemudian mempengaruhi lahirnya Kabupaten Temanggung. Sebagaimana dijelaskan Novaldy pegiat sejarah dari Sejarah Temanggung di acara “Parakan Night Festival” tentang Pertempuran Kedu Utara.
“Pertempuran Kedu Utara menjadi salah satu poin penting pemindahan ibu kota dari Parakan ke Temanggung. Perangnya itu tanggal 17 Agustus 1825, Parakan kalah lalu perpindahan itu tahun 1826. Jadi kalau tidak ada kekalahan di Parakan nggak bakal pindah,” ujarnya ditemui di eks Kantor Kawedanan Parakan, Minggu (1/11/2026) malam.
Dikatakan Novaldy, bahwa Pertempuran Kedu Utara merupakan salah satu titik krisis pertama pasukan Belanda atas kekalahan Bupati Menoreh Raden Tumenggung Ario Soemodilogo dari pasukan Diponegoro. Soemodilogo sendiri dianggap pemimpin yang cakap oleh pemerintah Hindia Belanda, lantaran sebelumnya bisa membebaskan Distrik Bandongan. Lalu krisis kedua terjadi pada bulan September 1825, karena Bupati Magelang Danuningrat I juga tewas.
“Tanggal 13 ada laporan, bahwa di Ledok, Wonosobo ada pengumpulan pasukan, kemudian ada perang tiga hari dari lereng Sindoro, terus Parakan dua hari hingga akhirnya meninggal di tanggal 17 Agustus itu. Penunjukkan dari Residen Kedu memang dia (Soemodilogo), memimpin pasukan dibantu orang-orang Belanda,” kata pria yang akrab disapa Ucok ini.
Dijelaskan, bahwa Perang Kedu Utara berawal dari masuknya laporan kepada Residen Kedu pada 13 Agustus 1825, tentang adanya konsentrasi pasukan di wilayah Ledok. Hal ini menjadi momok bagi Belanda sebab Parakan hanya dijaga sekitar 50 pasukan infanteri. Apabila pasukan itu berhasil menembus jantung Kedu Utara, maka jalur menuju Semarang, Kendal, dan Pekalongan menjadi terbuka, bahkan jika sampai Secang, maka Magelang dalam kondisi bahaya.
Bupati Menoreh Raden Tumenggung Ario Soemodilogo dan Asisten Residen Kedu Breton van Groll kemudian dikirim bersama separuh kekuatan Kedu untuk menjaga dua jalur kunci di celah pegunungan. Bupati Menoreh menjaga Cepoko, di antara Gunung Sindoro dan Kendil, sedangkan Asisten Residen Kedu menjaga Tlahab yang terletak di antara Gunung Sumbing dan Sindoro. Untuk memperkuat pasukan disediakan pos pertahanan di Prapag, Secang dan Medono, di mana pertahanan Parakan di bawah kendali langsung Letnan van Lettouw yang diperkuat menjadi 75 pasukan “flankeur”.
Pada 15 Agustus 1825 pertempuran terjadi di kedua sisi Gunung Sindoro, yakni di Cepoko dan Tlahab. Alhasil, Pasukan Hindia Belanda dipukul mundur ke Parakan. Dalam pertempuran di Cepoko Sub Demang Bandongan Wirayuda yang sebelumnya berada di barisan Bupati Menoreh berbalik melawan Bupati Menoreh, sedangkan Demang Jetis tertangkap sehingga ia harus Kembali sendiri ke Parakan.
Dampak pertempuran 15 Agustus 1825 adalah jatuhnya seluruh distrik Lempuyang sehingga Parakan terancam serangan. Pada 16 Agustus 1825 Parakan diserang, namun Pasukan Hindia Belanda masih mampu menahan tiga gelombang serangan dari arah Tlahab, hingga 17 Agustus 1825 terjadilah serangan di Parakan dari kedua sisi.
Perang hebat itu mengakibatkan terbakarnya wilayah Parakan hingga Pasukan Hindia Belanda terdesak ke arah Tlahab dan Bupati Menoreh terbunuh dalam pertempuran ini. Parakan pun akhirnya jatuh hingga akhirnya ibu kota di pindah ke Temanggung dengan Bupati pertamanya Raden Tumenggung Ario Djojonegoro.
“Dalam kurun waktu tiga hari sejak 15 hingga 17 Agustus 1825 tanah Kedu Utara menjadi saksi pertempuran yang membawa perubahan dan bertahan hingga saat ini. Tapi bagi masyarakat Kedu Utara, pertempuran ini adalah awal dari penderitaan yang berlangsung hingga puluhan tahun setelah berakhirnya Perang Jawa, karena ada tanam paksa. Jadi kalau kita lihat konteks historinya perpindahan ibu kota itu dalam suasana prihatin,” katanya.(***)
